Ada sebuah pertanyaan yang sudah terlalu laa tidak diajukan dalam dunia arkeologi dan kajian budaya Indnesia: siapakah yang memberi nama, dan untuk kepentingih dari satu abad, candi-candi di Nusantara dibaca melalui satu kacamata — kacamata yang bukan milik kita. Kacamata itu dipasang oleh sarjana-sarjana kolonial Belanda: Stutterheim, Krom, Bosch — para pemikir cerdas yang datang dengan satu pertanyaan besar: “pengaruh India mana yang masuk ke sini?”
Pertanyaan itu sendiri sudah memenjarakan. Ia menempatkan Nusantara sebagai penerima — pasif, kosong, menunggu untuk diisi. Ia tidak pernah bertanya: “Apa yang sudah ada di sini sebelum kapal pertama dari India tiba? Dan bagaimana tradisi yang sudah matang itu memilih, menyerap, atau menolak apa yang datang?”
Indianisasi Nusantara bukan impor peradaban. Ia adalah dialog antara dua atau lebih tradisi kosmologis yang sama-sama sudah dewasa. — Premis Riset Alternatif
Artikel ini adalah undangan untuk berpikir dari sudut yang berbeda. Bukan untuk menolak semua warisan kajian yang ada, melainkan untuk meluaskan horizon pertanyaannya — sebuah kerja yang dalam tradisi Jawa disebut titen: mengamati lebih cermat, lebih lama, lebih jujur.
Masalah dengan Label
Ketika kita menyebut “candi Hindu” atau “candi Buddha,” kita sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang lebih besar dari sekadar pengelompokan. Kita sedang mengklaim asal-usul sebuah kosmologi. Kita sedang berkata: bentuk pikiran ini datang dari sana, bukan dari sini.
Kata “Svarga” di BorobudurMunculnya kata svarga di Borobudur dapat ditafsirkan dua cara. Pertama: pengaruh Hindu “merembes” ke dalam monumen Buddha — yang mengasumsikan dua sistem terpisah yang bersentuhan. Atau kedua: kata svarga adalah terjemahan terdekat yang dipilih untuk mengungkapkan konsep kosmologis Nusantara yang sudah ada — konsep yang kebetulan juga bisa berdialog dengan Brahmanisme. Hipotesis kedua jauh lebih menarik, dan jauh lebih sedikit dieksplorasi.
Borobudur dikategorikan sebagai candi Buddha. Namun di dalamnya — dalam prasasti, dalam konteks narasi reliefnya — ditemukan kata svarga. Dalam doktrin Buddha murni, tidak ada kata ini. Padanan Pali-nya adalah sagga, atau lebih teknis: tataran alam atas dibagi dalam taksonomi kamaloka, rupaloka, dan arupaloka. Svarga adalah kosakata Brahmanis-Weda — berbau surga dalam pengertian yang jauh lebih personal dan naratif.
Apa yang kita saksikan mungkin bukan kontaminasi antar-agama. Mungkin yang kita saksikan adalah sebuah peradaban yang sedang meminjam kata-kata Sanskrit untuk konsep yang jauh lebih tua — seperti seseorang yang mengenakan baju baru tetapi berjalan dengan gaya lamanya.
Stupa Bukan Milik BuddhaIni bukan klaim provokatif. Ini adalah fakta arkeologis yang tersedia di literatur akademis, namun jarang menjadi titik tolak interpretasi candi Nusantara.
Stupa sebagai bentuk arsitektur mendahului kehidupan Siddhartha Gautama. Ia adalah burial mound — gundukan pemakaman tokoh besar — yang sudah dipraktikkan di berbagai penjuru Asia Selatan jauh sebelum Buddhism terbentuk sebagai agama. Buddha sendiri, menurut teks Pali, memerintahkan abu jenazahnya diletakkan di stupa mengikuti tradisi yang sudah berlaku untuk para pemimpin agung.
Pertanyaan yang seharusnya diajukan ketika kita menemukan stupa di Jawa, Bali, atau Sumatra bukan hanya: “seberapa kuat pengaruh Buddha di sini?” Pertanyaan yang lebih dalam adalah: “Apakah ada tradisi gundukan sakral lokal yang sudah ada, sehingga bentuk stupa mendarat di tanah yang subur?” Dan jawabannya hampir pasti: ya.
Borobudur, dilihat dari udara dan dari sejarah panjang, adalah punden berundak yang diperluas dan diisi dengan narasi — bukan sekadar stupa bergaya India yang ditanam di tanah Jawa.Punden Berundak: Substrat yang Terlupakan
Tradisi punden berundak — arsitektur teras bertingkat yang berfungsi sebagai ruang sakral — tersebar di seluruh kepulauan Nusantara jauh sebelum gelombang Indianisasi pertama. Ini bukan spekulasi. Gunung Padang di Jawa Barat, situs megalitik di Sumatra, struktur teras di Sulawesi dan Maluku — semua adalah saksi bisu bahwa Nusantara sudah punya arsitektur kosmologis mandiri.
Arsitektur ini memiliki logika yang konsisten: gunung sebagai pusat (axis mundi), teras sebagai lapisan alam, leluhur sebagai mediator antara bumi dan langit. Ini bukan doktrin India. Ini adalah kosmologi Austronesia yang tersebar dari Taiwan hingga Madagaskar, jauh melampaui batas pengaruh India manapun.
Kasus-Kasus yang Berbicara Sendiri Candi Sukuh dan Cetho: Ketika Topeng Dilepas
Di lereng Gunung Lawu, berdiri dua candi yang membingungkan para sarjana konvensional. Candi Sukuh dan Candi Cetho secara visual hampir tidak terlihat “India.” Tangga curamnya mengingatkan pada piramida. Reliefnya menampilkan figur dengan proporsi yang disebut “naif” oleh standar estetika India — namun justru sangat ekspresif dalam konteks tradisi lokal. Keduanya dibangun di ujung era Majapahit. Ini bukan kebetulan. Ini mungkin adalah momen ketika — setelah berabad-abad “berbicara dalam bahasa India” — peradaban Jawa mulai melepaskan topengnya dan mengungkapkan wajah yang lebih tua.
Shiwa-Buddha: Sintesis yang Tidak Ada di IndiaDalam Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular dari era Majapahit — teks yang melahirkan frasa Bhinneka Tunggal Ika — terdapat konsep yang sangat menarik: Shiwa dan Buddha diperlakukan bukan sebagai dua agama yang berdamai, melainkan sebagai dua nama untuk satu kebenaran yang sama. Shiwa dan Budha bisa juga ditafsirkan sebagai asli pemahaman disini yang mengandung keduanya.
Konsep ini tidak ada presedennya di India. Di India, Shaivisme dan Buddhism adalah tradisi yang bersaing, kadang bermusuhan. Namun di Jawa, mereka berpelukan menjadi satu. Mengapa? Karena kerangka berpikirnya bukan dari salah satu di antaranya. Kerangka berpikirnya adalah Jawa — dan dari sudut Jawa, kedua sistem itu hanyalah dua jendela yang menghadap pemandangan yang sama.
Candi Jago: Koherensi yang Salah DimengertiRelief-relief Candi Jago (Malang) mencampur ikonografi Buddha Mahayana dan Shaiva dalam satu aliran narasi visual. Dari perspektif Indologi klasik, ini dianggap “sinkretisme” — seolah dua sistem yang secara tidak sengaja tercampur. Namun bacaan ini menempatkan “kemurnian India” sebagai standar, dan Jawa sebagai yang menyimpang darinya.
Balikkan perspektifnya: dari sudut pandang tradisi lokal, pencampuran ini adalah koheren. Ia bukan produk kebingungan, melainkan produk sistem berpikir yang sudah lebih dahulu ada — yang mengenali kemiripan antara Shaiva dan Buddha karena keduanya beresonansi dengan sesuatu yang lebih dalam yang sudah dikenal.
Metodologi Riset: Membuka Horizon Baru
Menafsir ulang bukan berarti menolak semua yang sudah ada. Ini berarti memperluas pertanyaannya. Berikut adalah kerangka metodologis yang kami usulkan:
01 — Pendekatan Palimpsest BerlapisBaca candi seperti membaca teks bertindih. Cari lapisan mana yang paling tua: orientasi bangunan terhadap gunung atau sungai lokal, material dan teknik pra-Indianisasi, nama-nama tempat dalam bahasa pra-Sanskrit. Pertanyaan arkeologis bukan hanya apa yang ada, tetapi apa yang ada di bawahnya.
02 — Arkeolinguistik SubstratLacak kosakata dalam prasasti dan kakawin untuk menemukan kata-kata yang tidak dapat ditelusuri ke Sanskrit atau Pali — yang memiliki padanan di bahasa Austronesia lain seperti Tagalog, Malagasi, atau Champa. Ini adalah kerja seperti yang dilakukan Zoetmulder pada Kawi, namun dengan pertanyaan yang dibalik: bukan berapa banyak Sanskrit yang masuk, melainkan apa yang tidak bisa digantikan oleh Sanskrit.
03 — Komparasi Austronesia Lintas-KepulauanBandingkan kosmologi candi dengan tradisi adat yang bertahan: Kaharingan Dayak, Sunda Wiwitan, Marapu Sumba, Aluk To Dolo Toraja, bahkan kosmologi Taiwan Aborigin dan Madagaskar. Pola yang berulang — tripartit kosmik, sumbu vertikal, gunung sebagai pusat, leluhur sebagai mediator — bukan doktrin India. Ini substrat Austronesia yang sudah ada sebelum India dikenal.
04 — Integrasi Pengetahuan Lokal sebagai Sumber PrimerPara juru kunci dan komunitas adat di sekitar candi sering menyimpan narasi yang tidak sesuai dengan tafsir konvensional — dan justru karena itu, sangat berharga. Metodologi riset yang serius harus memperlakukan pengetahuan lisan ini bukan sebagai folklor yang perlu diluruskan, melainkan sebagai lapisan arsip yang berbeda jenis, sama validnya dengan prasasti.
05 — Archaeoastronomi dengan Sistem LokalOrientasi candi dikaji menggunakan sistem titen bintang Nusantara: petungan, pranata mangsa, kalender pertanian lokal — bukan semata sistem astrologi India. Beberapa penelitian awal menunjukkan orientasi Borobudur terhadap fenomena astronomi yang tidak bisa dijelaskan semata-mata dengan mandala India.
06 — Hermeneutika Kecurigaan atas Sumber KolonialTerapkan pertanyaan kritis pada literatur arkeologi warisan kolonial. Mana kategori yang dibuat karena data, dan mana yang karena kebutuhan tipologi sarjana Barat abad ke-19? Data mana yang diabaikan karena tidak cocok dengan kategori yang sudah ditetapkan sebelumnya? Ini bukan serangan pada individu; ini adalah kerja sains yang sehat.
Tesis Utama Indianisasi Nusantara bukan impor peradaban ke tanah yang kosong. Ia adalah dialog yang terjadi antara tradisi kosmologis yang sudah matang di kedua sisi. Nusantara memilih, menyerap, dan memodifikasi elemen India dengan selektivitas yang sangat tinggi — karena mereka sudah punya kerangka kosmologis sendiri yang kuat. Hasilnya bukan Hindu. Bukan Buddha. Hasilnya adalah Dharma Nusantara — dengan vokabuler India tetapi dengan ruh yang lebih tua dan lebih dalam.
Pertanyaan Riset yang Belum Dijawab
Di ujung semua argumen ini, ada satu pertanyaan besar yang adalah kunci dari seluruh proyek reinterpretasi ini — pertanyaan yang belum pernah benar-benar dikejar:
Apa nama asli, dalam bahasa Nusantara sebelum Sanskrit, untuk konsep-konsep yang kemudian dipakaikan label Hindu dan Buddha?
Bagaimana nenek moyang kita menyebut “surga” sebelum ada kata svarga? Bagaimana mereka menyebut “jiwa” sebelum ada atman? Bagaimana mereka menyebut “pencerahan” sebelum ada bodhi? Menemukan kata-kata itu — melalui arkeolinguistik, melalui tradisi lisan, melalui perbandingan Austronesia — adalah pekerjaan generasi, dan pekerjaan itu belum dimulai dengan sungguh-sungguh.
Dari perspektif titen — mengamati langsung, bertahun-tahun, dengan seluruh kepekaan yang ada — para leluhur kita membaca alam semesta dengan cara yang kemudian ternyata bisa berdialog dengan konsep Brahma-atman, Dharmakaya, atau Sunyata. Bukan karena mereka murid India. Tapi karena mereka menemukan hal yang sama dari jalan yang berbeda.
Itulah yang ingin kita buktikan. Dan riset itu belum selesai. Bahkan, boleh jadi — belum benar-benar dimulai.
Artikel ini adalah bagian dari seri Riset Alternatif Nusantara di titen.web.id — ruang untuk mengamati lebih lama, bertanya lebih dalam, dan tidak takut pada jawaban yang menggoyahkan kebiasaan.